Senin, 21 Februari 2011

3 Cinta Dalam Satu Hati (4)

Episode Ke Empat

Hari ke-31 sejak pertemuan yang mengesankan di Resto Kebun KCKBX. Kamila sedang menunggu kelas berikutnya dimulai. Pikirannya masih dipenuhi memori kunjungan ke rumah Taufan dua hari yang lalu.  Dalam percakapan 1 jam 13 menit itu, banyak hal yang mereka bertiga obrolkan. Walau sebenarnya, Kamila lebih banyak mendengarkan, selebihnya eyang yang berbicara, lebih tepatnya bercerita. Taufan sendiri hanya sesekali menambahkan.

###
"Berbeda itu sempurna," ucap eyang mengawali ceritanya (senyum). *Kalimat favorit ane nih, hehe ^^

"Maksudnya eyang?" tanya Kamila yang duduk di hadapan eyang. (sabar napa mil, baru juga mulai, udah nanya aja. Hehe ^^ Peace!)

"Ya, berbeda itu sempurna, ungkapan yang sangat tepat ditujukan untuk menggambarkan Taufan dan Fadhil (menatap Taufan yang duduk di sampingnya)." Yang ditatap tersenyum malu.

Lanjut eyang, "Walau pun kembar, Taufan dan Fadhil sangat berbeda satu sama lain. Memang benar, wajah mereka bagai pinang di belah dua, tapi sifat, kebiasaan, hobi, minat??? Hmm,,, bagai kopi dan susu. Yang satu pahit, yang satu manis. Tapi seperti halnya kopi dan susu, ketika keduanya dicampurkan menjadi kopi susu, kita tetap tidak kehilangan rasa kopinya mau pun rasa susunya, bahkan rasanya mungkin lebih enak, lebih mantap (sambil mengacungkan jempolnya 'like this'nya)."

Kamila hanya tersenyum mendengar perumpamaan yang digunakan eyang, baru kali ini ia dengar peribahasa, kembar bagai kopi dan susu.

"Fadhil, seseorang dengan hati yang sangat lembut, penuh perhatian, dan seorang pembelajar sejati. Seseorang yang sangat ceria, ringan berteman dengan siapa saja. Walau sejak 2 tahun yang lalu, sikapnya menjadi lebih pendiam."

"2 tahun yang lalu? Ada apa dengan 2 tahun yang lalu?" tanya Kamila dalam hati, enggan bertanya langsung.

"2 tahun lalu,,, ah,,, esok lusa mungkin Taufan akan menceritakannya sama kamu, Kamila (tersenyum)" Lanjut eyang, seolah bisa membaca pikiran Kamila.

"Sedangkan Taufan, kebalikannya dari Fadhil. Keras kepala, cuek, tidak suka belajar." Yang dibicarakan tersenyum kecut, merasa penggambaran eyang berlebihan, gak ada bagus-bagusnya. Kamila hanya tersenyum melihat wajah Taufan yang cemberut.

"Tapi,,, (lanjut eyang sambil melirik ke arah Taufan) Taufan juga seorang pekerja keras, teguh pendirian, dan satu lagi yang paling penting, SETIA." Seketika wajah cemberut Taufan berganti dengan simpul senyum malu-malu. (Ciee... ^^)

"Tentang hal lainnya, kamu bisa menanyakannya langsung pada Taufan, Kamila."

"Iya eyang." ucap Kamila singkat.

Hening sesaat.

"Hmm,,, Oia, eyang lupa, kamu mau minum apa, Kamila?" Tanya eyang, teringat sedari tadi belum menawarkan apa pun ke Kamila.

"Eh,,, gak usah repot-repot eyang (senyum)," jawab Kamila.

"Udah gapapa, gak repot kok. Kalo gitu eyang ke dapur dulu ya. Eyang tinggal sebentar." ucap eyang, beranjak menuju dapur.

Kini tinggal mereka berdua.

"Eng,,,mmm,,, Fan,, kamu dan Fadhil tinggal di sini cuma sama eyang aja? Orang tua kamu?" Ragu-ragu Kamila bertanya kepada Taufan, sedari tadi memperhatikan, tidak ada sedikit pun cerita tentang orang tua si kembar.

"Mereka udah lama meninggal." jawab Taufan singkat.

"Owhh,,, Sorry." Ucap Kamila merasa bersalah dengan pertanyaannya tadi.

"Gapapa kok. Nyantai aja (senyum). Hmm,,, Sekarang, aku dan Fadhil cuma punya eyang, orang yang paling kita sayang." kini giliran Taufan bercerita.

"Aku rasa, aku juga mulai sayang sama eyang kamu, Fan. Hehe,,," ucap Kamila sambil sedikit tertawa, mencoba melumerkan suasana yang mulai serius. "Dan aku juga sayang kamu, Taufan." Lanjut Kamila. Taufan hanya tersenyum mendengar kalimat Kamila barusan. Tentu saja kalimat yang pertama, karena kalimat yang kedua hanya diucapkan dalam hati Kamila. Hehe ^^

"Makanya sekarang, gak ada yang lebih penting bagi aku dan Fadhil, selain melihat eyang tersenyum. Apa pun yang aku dan Fadhil lakukan saat ini, tidak lebih hanya berharap bisa membuat eyang bahagia. Rasanya itu sudah lebih dari cukup."

"Beruntung sekali eyang kamu, Fan."

"Beruntung??? (senyum) Justru aku dan Fadhil yang beruntung punya eyang, Mila. Kamu tahu, dulu... sebelum eyang menemukan kami...
###

"Mil, Milaaaa, dosennya udah masuk tuh, bengong aja dari tadi." ucap Rain sedikit teriak, membuyarkan lamunan Kamila.

"Ehh,,, iya."tersontak kaget, Kamila langsung menatap ke depan kelas. Wajah Taufan saat menceritakan tentang lika-liku hidupnya masih terbayang jelas dalam pikiran. Hmm,,,,

***

"Pagi semuanya!"

"Paaagiiii, Pak!"

"Bagaimana, tugas makalah yang saya berikan pekan lalu sudah selesai semua? Sekarang, siapa yang bersedia mempresentasikan hasil makalahnya di depan? Ada? ... Kalau tidak ada, akan saya tunjuk. Bagaimana? Ada?" panjang Pak Boy mengawali kuliahnya, langsung ke topik kuliah. Tiba-tiba...

"Permisi, Pak!" ucap seorang mahasiswa, dengan muka pias, terlihat sekali dia ngos-ngosan berlari menuju kelas. "Maaf saya telat, Pak!"

(Upss,,, lupa. Just info dari ane, jd inget waktu kuliah Bahasa Indonesia semester 1, dosen ane bilang "telat" gak ada dalam kamus bahasa Indonesia, yang ada kata "terlambat", coz ternyata kata "telat" berasal dari bahasa Belanda. Begitu. Hehe,, ^^ Ok. Kita ulangi lagi)

"Maaf saya terlambat, Pak! Tadi di jalan tiba-tiba mobil saya mogok, trus saya akhirnya cari taksi, eh di tengah jalan, taksinya nabrak angkot, supir angkotnya marah-marah, supir taksinya gak terima, trus..." (ni mahasiswa gak penting banget sih, hehe ^^)

"Ok, cukup. Tidak apa-apa. Silakan masuk." ucap Pak Boy memotong kalimat mahasiswanya, tersenyum.

###
"Duh,,, Pak Boy baik banget sihh,,, makin sukaaa deh. Iya kan, Mila?" menengok ke arah Kamila. Yang diajak bicara hanya diam, sibuk dengan pikirannya sendiri.

"(dalam hati) taksi??? Ohh,,,ya, ya, ya,,, aku ingat sekarang. Pantes aja, kayaknya aku dah pernah liat Pak Boy. Huh' ternyata dia yang dulu rebut taksi aku waktu pertama kali mau ketemu Taufan." dengus Kamila kesal.

"Woiii,,, ampun dah ni anak, dari tadi kerjaannya bengong aja. Mil, mila,,," tak sadar Rain teriak memanggil Kamila.

"Ehh,, eng,,,iya,, iya,,, dia banget ya,,,hehe" ucap Kamila berpura-pura mendengar ucapan Rain, senyum terpaksa.
###

"Mila, siapa yang bernama Mila?" tiba-tiba Pak Boy memanggil nama Kamila.

"Oh,, ya,, saya, Pak? Bapak manggil saya (menunjuk diri sendiri)?"

"Oia, kamu Mila. Silakan presentasikan hasil makalah kamu." langsung Pak Boy menunjuk Kamila maju ke depan. "Mi..la.., jadi dia namanya Mila" benak Boy dalam hati. (ya elah mas boy, emangnye kagak pernah diabsen ya kalo di kelas, hadeeuuhhh,,, gemes deh ah. ^^)

"Ahh,, kamu sih Rain," sambil cemberut melirik ke arah Rain.

"Hehe,, sorry."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Don't be shy, write your mind! ^_^