Rabu, 21 Desember 2011

Hearty Paws 1

I love animal! Yes! (kecuali serangga dan reptil. Hehe...)

Dari sekian banyak jenis film yang udah pernah ane tonton, Animal Movie atau film tentang hewan menjadi salah satu favorit ane. Apalagi kalau film tersebut menitikberatkan pada aspek hubungan (alaahh, ngomong apaan sih ane?) antara manusia dan hewan, pasti menyentuh. Nah, sekarang ane akan mereview film yang beberapa bulan lalu ane tonton.

Hearty Paws 1



Genre: Drama
Director: Oh Dal-gyoon
Cast: You Seung-ho, Kim Hyang-gi and Dal-I (the dog)
RunTime: 1 hr 40 mins
Released By: GV and Encore Films
Rating: PG
Official Website: www.encorefilms.com/heartypaws

Minggu, 18 Desember 2011

Lomba Desain Foto

Assalamu'alaikum kawan blogger. ^_^

Alhamdulillah, saya sedang mengikuti Lomba Desain Foto yang diadakan oleh sahabat saya, Wiladah Azzahra. Jika berkenan dan menyukai desain foto di bawah ini, mohon bantuan untuk me-like fotonya melalui Facebook dengan link berikut ini: Lomba Desain Foto (Dika Fatwa).

NB: Ini foto yang ngadain lombanya, bukan saya. Hehe...
Kalau ini, desain yang ke-2

Sabtu, 17 Desember 2011

Two Thousand Eleven

Sudah mendekati akhir tahun, kawan? Apa rencanamu?

Dalam kehidupanku, hanya sedikit hal yang terjadi di tahun 2011. Namun, dari yang sedikit itu, justru sangat amat menyakitkan untuk diingat. Sangat menyakitkan sampai-sampai aku merasa tahun 2011 adalah tahun terburuk dalam kehidupanku. Meski begitu, pelajaran yang amat sangat berharga tak lupa mengiringi kesedihanku, keterpurukkanku. Ya, aku belajar banyak hal dari setiap kesakitan dan kegagalan yang terjadi. 


Pun ku tak kan pernah lupa akan tawa bahagia di sekelilingku. Meski kusadar, tawa bahagia itu sedikit pun bukan milikku. Adalah kebahagiaan hakiki saat kita mampu berbahagia atas kebahagiaan orang lain, tanpa pengecualian. Dan Allah benar-benar sedang mengujiku dengan hal tersebut. Ya, sekuat mungkin aku berusaha terlihat bahagia, meski tak jarang berakhir dengan tangisan di pojok kamar. Aku tetaplah manusia biasa...


Lantas, bagaimana dengan rencana di tahun 2012?
"Berusaha menyenangi dan mensyukuri apa yang telah dan akan kujalani. Itu saja. :-)"


Lalu, bagaimana denganmu, kawan?

Jumat, 16 Desember 2011

Kutunggu Skenario Terindah-Mu

Di ujung waktu
Telah kutemui kegagalan selalu
Seolah mengajariku untuk menunggu
Menunggu skenario terindah dari-Mu

Telah kuberjuang melawan ragu
Meski kutahu
Syaitan kerap kali mengganggu
Aku tetap menunggu skenario ingin-Mu


Aku akan tetap berjuang maju
Sampai waktu lelah menungguiku
Untuk berhasil mencapai skenario takdir-Mu

Perjalanan panjang ini akan tetap kutempuh
Meski kutahu
Akan ada banyak hal yang membuatku terjatuh
Terjatuh untuk kembali bangkit maju

Karena kuyakin
Kau selalu ada untukku

Dan di penghujung waktu
Kutunggu selalu skenario terindah-Mu

Selasa, 13 Desember 2011

Happy Birthday My Lovely Dad

Yah, walau sedikit terlambat, ane ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk Bapak yang telah memasuki umur 59 tahun tepat pada tanggal 12-12-2011 kemarin. Wuihhh,,, baru sadar Bapak akan mencapai umur 60 tahun di hari yang paling cantik tahun depan, 12-12-2012.

Semoga Allah senantiasa melindungimu dari kejahatan dan merahmatimu dengan segala kebaikan. Aamiin. Maaf untuk ke sekian kalinya atas setiap tingkah anakmu yang tak tahu diri ini... 

Sang Kakek sedang bermain bola dengan cucunya. ^_^
By the way, berbicara tentang tradisi ulang tahun sebenernya gak wajib-wajib banget dalam keluarga ane. Ane pun cuma sekali ngerayain ulang tahun yaitu di umur 17 tahun. Qiqiqi,,, kalau lihat videonya lagi kok malah ingin ketawa ya? Hehe...

Setiap ulang tahun keluarga, baik itu orangtua, kakak maupun adik, meski gak pake acara raya-rayaan, kami sekeluarga selalu menyempatkan untuk memberi kado/hadiah setiap tahunnya. Terutama generasi termuda di keluarga kami, Ane (Dika), Dita, Dela, dan Bhismi, yang selalu mengagendakan untuk patungan beli kado untuk kakak dan orangtua. Hehe...

Jadi minimal satu tahun sekali, masing-masing anggota keluarga di rumah pasti dapet hadiah. Termasuk ane. Yup. Hadiah yang paling spesial tentu aja HP Esia yang diberikan oleh anggota Bray D3B -> Dela, Dita, dan Bhismi tahun lalu. Kenapa HP Esia? Emangnya ane gak punya HP? Hoho... Jadi Dela, Dita, dan Bhismi masing-masing memiliki satu HP GSM dan satu HP Esia. Sedangkan ane waktu itu hanya punya 2 HP GSM. So, untuk mempermudah komunikasi, maka dibelikan lah ane hp Esia oleh mereka. Alasannya, tentu saja biar lebih murah kalau telpon. Hoho... Dannn... dibuanglah HP GSM ane yg satunya karena memang sudah tidak layak guna alias tombolnya sudah tidak bisa dipake. Hehe... Sekali lagi terimakasih my beloved family. :-)

Begitulah, selalu ada yang spesial. Pernah entah di tahun berapa, kami memberikan hadiah kepada Mama sebuah tulisan yang kami buat sendiri dari kain planel. Bunyi tulisannya seperti ini: 

WE LOVE U
MOM AND DAD

Sederhana, tapi sarat makna... Sampai sekarang tulisan itu masih tertempel di depan pintu kamar Bapak dan Mama. ^_^ Ah, tentu saja kata-kata itu tidak cukup mewakili seberapa besar cinta kami pada orangtua. 

Well, kesimpulannya: Dalam keluarga kami, tidaklah wajib merayakan ultah, yang wajib adalah memberikan hadiah. Sebagai ajang mengingat kembali betapa kami saling mencintai dan menyayangi. Dan ane bersyukur akan tradisi ini. Setidaknya, tradisi saling memberi hadiah membuat keluarga ini masih harmonis sampai sekarang. Alhamdulillah. :-)

Finally, ane sadar, toh perayaan ultah bukan budaya dari agama Islam. Tapi, ya tidak ada salahnya memberikan sesuatu yang spesial di hari tersebut kepada orang yang benar-benar kita cintai. ^_^

Mari Berprasangka Baik

"Pernah sakit hati karena perkataan teman kita di Facebook? Pernah putus cinta gara-gara ada cewek ngegodain pacar kamu di Twitter?"
Sebagian orang mengatakan bahwa status-status FB atau Twitter bisa menggambarkan kepribadian seseorang. Maybe yes, maybe no. Tidak mutlak, semua tergantung cara pandang kita masing-masing. Tentu saja kita tetap harus hati-hati mengeluarkan "isi otak" kita di dunia maya. Jangan sampai, niat kita yang awalnya hanya ingin melepaskan unek-unek, justru menyebabkan masalah karena menyinggung hak orang lain. Sekali lagi, selalu lah berhati-hati.


Interaksi kita di dunia maya tidak dipungkiri berdampak pula pada kondisi kita di dunia nyata. Berapa banyak sih remaja-remaja yang gak mau makan gara-gara marahan sama pacarnya di Facebook? Berapa banyak sih teman kita yang tiba-tiba cemberut hanya gara-gara gak ada yang comment di statusnya? Saya yakin pasti, B-A-N-Y-A-K! Sama banyaknya akan kasus-kasus sepele yang lainnya. 

Sepakat atau tidak, hal ini menandakan bahwa sebagian orang telah menganggap dunia maya layaknya seperti dunia nyata. Isn't it? Tapi apakah hal tersebut bisa dibenarkan?
"Everyone has their own style on the way they speak, behave, and think based on their believe. I don't see anything wrong with that since it's for something good."
Setiap orang punya gayanya sendiri dalam caranya berbicara, bersikap, dan berpikir berdasarkan apa yang mereka percaya. Saya tidak melihat sesuatu yang salah dengan itu selagi itu untuk sesuatu yang baik.
Quote di atas entah mengapa sangat menggambarkan apa yang saya rasakan akhir-akhir ini terkait interaksi saya dengan teman-teman di dumay. Saya pun pernah merasakan sakit hati karena perkataan salah satu teman di Facebook. Awalnya saya marah, tapi apa boleh buat. Saya belum pernah bertemu dengan orang tersebut, jadi gak ada guna juga saya marah sampai berkepanjangan.

Kita tidak punya hak menghakimi kepribadian seseorang hanya dari status FB, terlebih terhadap teman yang belum pernah bertemu. Masing-masing orang memiliki latar belakang berbeda, yang mempengaruhinya dalam cara dia berbicara, bersikap, dan berpikir. Termasuk bagaimana cara mereka mengekspresikan diri di dunia maya. Ya, I don't see anything wrong with that since it's for something good.


Maka dari itu, sudah sepatutnya kita berpikir cerdas dan positif menanggapi hal-hal yang terjadi di dunia maya. Karena dunia maya hanyalah bagian kecil dari dunia yang maha luas ini. Open your mind, open your heart, open your eyes. Mari berprasangka baik! 

Minggu, 27 November 2011

Guru Terhebat


Kawan, kau mungkin hanya mengingatnya sebagai seorang guru biasa yang hobi mencubit jika kau melakukan kesalahan di sekolah. Mungkin pula, kau hanya mengingatnya saat ia dengan ringan tangan menggunting celana SMP milikmu yang panjangnya tidak sesuai aturan, "Ikutan trend anak band, Pak!" itu katamu dulu. Atau, bisa jadi kau hanya mengingatnya saat ia berteriak meminta kalian berhenti tawuran, lantas berpura-pura menelpon polisi saat kalian tak jua mendengarkan perintahnya. Begitukah?

Ah, jika benar demikian, semoga ceritaku ini bisa sedikit membuat kalian mengerti tentangnya. Tentang lelaki tua yang selalu menginspirasiku dalam hidup. Dia adalah guruku, gurumu, guru kita semua. Dan aku merasa beruntung telah hidup bersamanya selama lebih dari 20 tahun. Yes, he is my lovely Dad.

Ia adalah sosok yang mengajariku untuk lebih banyak memberi daripada meminta. Ini adalah pelajaran hidup yang akan selalu aku ingat. Seperti sore itu, saat Bapak pulang membawa beberapa pisau yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan alias sudah ada banyak di rumah. Saat ditanya mengapa tiba-tiba membeli itu semua, Bapak santai menjawab, “Tadi ada tukang pisau keliling mampir di sekolah. Kasihan, kayaknya pisaunya gak laku-laku. Ya udah, akhirnya Bapak beli aja. Hitung-hitung sedekah.”

Ia adalah sosok yang baik, teramat malah. Selalu memberi sebelum aku meminta. Memberi tanpa banyak bicara. Sosok yang mengajariku untuk bersyukur dengan lebih banyak memberi. Sosok yang terlihat kasar di luar, namun sangat humoris saat bersama keluarga.

Pun ketika aku sudah kuliah. Saat menelepon, tiga pertanyaan yang selalu diajukannya justru bukan tentang kuliah.
“Gimana kabarnya? Sehat?”
“Sudah makan atau belum?”
“Uang bulanannya masih cukup?”
Entah butuh berapa lama agar aku bisa membalas semua kebaikanmu, yang sejatinya tidak akan pernah bisa aku lunasi. Terimakasih, Bapak! Pelajaran hidup yang telah Bapak berikan, akan selalu menjadi bekal penting perjalanan hidupku ke depan. You are the best teacher ever!

 I love you, Dad...

***

Catatan ini untuk Bapak, yang telah mendedikasikan hidupnya di dunia pendidikan selama lebih dari 20 tahun.


Kamis, 10 November 2011

[Cerpen] Pahlawan Yang Kubenci

Assalamu'alaikum. Alhamdulillah sudah memasuki bulan November. Sebelumnya ane ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha. Maaf rada telat ngucapinnya. Hehe... Well, mengawali postingan pertama di bulan ini, ada sebuah cerpen sampah yang gak menang lomba. Hehe... Daripada ini cerpen diikutkan lomba yang lain yang udah pasti kagak bakalan diterima, yo wes ane posting aja di sini. Siapa tahu bermanfaat, meski gak menang lomba. Ya sudah, daripada banyak cas cis cus gak jelas yang ujung-ujungnya malah curhat, haha... mending langsung baca aja! Cekidot!

H A P P Y   R E A D I N G ! ! !

Pahlawan yang Kubenci

            Taman Ismail Marzuki, 2020
            “Selamat ya, Fiz! Akhirnya buku lo yang ke seratus jadi juga launching hari ini.”
          “Iya, makasih bro! Gue gak nyangka, hari yang gue udah dambain sejak lama, akhirnya terjadi juga. Alhamdulillah, gua gak pernah nyangka bakal secepat ini. Dan semuanya berkat lo, Riz! Thanks ya, bro! Terimakasih atas bantuan lo selama ini.”
            “Halaaah, lo bilang apa sih. Gue gak bantuin apa-apa lagi. Kesuksesan lo saat ini adalah berkat kerja keras lo sendiri. Hehe…”
            “Siapa bilang lo gak bantuin apa-apa. Lo tuh udah…”
        “Stop, stop, stop! Gak usah dilanjutin. Nama lo dah dipanggil tuh sama MC. Cepet sana naik ke panggung, jangan buat para penggemar novel lo pada nunggu! Ayo!”
           “Ok, ok, ok. By the way, pekan depan jadi acara pameran Desain Grafis lo di Sydney? Gue diundang gak?”
          “Pastinya lah, gak mungkin gue gak ngundang adik kembaran gue yang paling ganteng ini. Udah buruan sana! Go, go, go!”
***
         Hari ini adalah salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu dalam hidup Hafiz. Novel perdananya akan dikirmkan ke penerbit dan kemungkinan besar akan langsung diterbitkan. Semua sudah siap. Tapi entah mengapa, Hafiz merasa masih ada sesuatu yang kurang. Maka Hafiz pun menemui Hariz, berharap mendapatkan suntikan semangat dari saudara kembarnya.
            “Riz, lagi sibuk gak?” tanya Hafiz saat sudah berada dalam kamar Hariz. Dilihatnya Hariz sedang asik dengan aplikasi Photoshop CS4-nya.
            “Gak. Kenapa emangnya?” Hariz membalikkan badan, mengarahkan pandangannya pada Hafiz.
            “Gak apa-apa. Serius nih lo gak lagi sibuk?”
            “Ye lah, beneran. Emangnya kenapa sih? Hmm… roman-romannya ada yang gak beres nih. Napa brow?”
            “Gini, Riz. Gue kan hari ini mau ke penerbit buat ngirimin naskah novel perdana gue. Tapi gak tahu kenapa, kok gue gak yakin ya? Hmm….”
            “Kok bisa gak yakin, Fiz? Gak biasanya lo pesimis begini?” Hariz heran sendiri dengan sikap Hafiz yang biasanya selalu optimis dengan apa pun yang dia kerjakan.
            “Bukan gitu. Gue cuma butuh pendapat lo. Yang jujur sejujur-jujurnya karena ini menyangkut masa depan gue.”
            “Haha…. Lebay banget sih.”
            “Ihh… gue serius. Gue mau nanya, lo kan dah baca nih novel gue. Menurut lo sendiri, novel ini bagus gak sih?”
            “Serius mau tahu pendapat gue? Gak nyesel? Hehe….” Hariz mencoba mencairkan suasana tegang di hati Hafiz.
            “Ya seriuslah. Makanya gue ke sini. Jadi gimana pendapat lo, Riz?”
            “Hmm… Sejujurnya, tulisan lo tuh basi! Gak ada bagus-bagusnya. Kurang greget, Fiz! Terlalu klise! Gak asik deh pokoknya! ”
            “Maksud lo?” Hafiz syok mendengar pendapat kembarannya.
            “Bentar dulu, gue belum selesai ngomong. Sabar bro!”
            “Sabar sih sabar! Tapi apa maksud lo bilang kayak gitu! Ternyata salah besar gue datang ke sini. Bukannya semangat yang gue dapet, malah hinaan yang gue terima dari mulut lo. Bener-bener jahat lo, Riz! Gak nyangka lo bisa ngomong gitu sama gue.”
            “Fiz, bentar! Sabar bro! Gue belum selesai ngomong nih. Tulisan lo emang klise… tapi…”
            “Halah… udah. Gue gak mau denger lagi!”
“Tapi, Fiz! Hafiz!!!”
            BRAKKK!!!

Senin, 31 Oktober 2011

[Review Buku] Wajah-Wajah Kayu Bapak

Sebuah Kumpulan Cerpen
Bismillah, kali ini ane akan coba mereview secara singkat kumcer yang baru beberapa hari lalu rampung dibaca. Judulnya "Wajah-Wajah Kayu Bapak" karya 30 Nominator Lomba Cerpen Remaja Tingkat Nasional Writing Revolution 2011.

Buku ini termasuk salah satu buku tercepat yang berhasil ane baca kurang dari 24 jam. Horeeee... *tepuk tangan* ^^.

Cerpen-cerpen dalam kumcer ini beda-beda temanya. Tentu gak mungkin ane sebutkan semua. Tapi memang kebanyakan bertema budaya dan remaja. Namun dari kesemuanya, ada satu cerpen yang menjadi favorit ane. Judulnya "Semua Untuk Ikhsan" karya Rik Sjp. Cerpen yang sangat unik dan menarik. Bercerita tentang keseharian Ikhsan dengan segala kebutuhannya. Satu kalimat terakhir dari cerpen ini dan ane suka banget adalah kalimat "Fungsi mereka sama, cuma perannya saja yang berbeda". Wallahu'alam, saat baca kalimat ini, pikiran ane langsung menafsirkan kalimat tadi sesungguhnya untuk manusia. Fungsi/tugas manusia sama, untuk menyembah Allah, hanya perannya saja yang berbeda-beda di dunia ini. Dalam kata lain, "pelabuhannya sama, perahunya saja yang berbeda-beda". ^_^

Banyak hal positif pastinya setelah membaca kumcer ini yang finally membuat ane ingin bisa seperti mereka. Dari cerpen-cerpennya tercirikan bahwa para penulisnya memang memiliki pengetahuan yang luas akan budaya Indonesia. Ini yang mebuat ane salut. Secara ane sendiri belum bisa membuat cerpen yang bertemakan lokalitas budaya setempat. Pokoknya, salut deh sama penulis-penulisnya.

Ada positif, pastinya ada sisi negatifnya juga. Hal ini juga berlaku untuk kumcer "Wajah-Wajah Kayu Bapak". Sebenernya, untuk kelemahan kumcer ini bagi ane cuma ada di kesalahan cetak di beberapa cerpen. Untuk isi cerpennya, ane gak mau berkata banyak. Soalnya ane sendiri belum tentu bisa bikin cerpen-cerpen keren kayak mereka. Hehe,,, jadi kalau penasaran, mending langsung beli aja deh kumcernya di sini.

Yo wes, segitu dulu review buku kali ini. Semoga bisa jadi referensi menarik untuk bahan bacaan kita sehari-hari. SEMANGKA!!!

Top Ten [Western Song]

Entah mengapa, iseng-iseng kemarin malam ane bikin list 10 lagu barat terfavorit. Ya, ane memang suka Bahasa Inggris, jadi lagu-lagu ini kadang jadi ajang buat belajar Bahasa Inggris juga. Hehe... Semua lagu mulai dari jaman SD sampai sekarang. Apa saja lagu itu? Here they are!
  1. If You're Not The One by Daniel Bedingfield
  2. Today, My Life Begins by Bruno Mars
  3. Flying Without Wings by Westlife
  4. Mama by Boyz II Man
  5. Never Say Never by Justin Beiber ft. Jaden Smith
  6. If Tomorrow Never Comes by Ronan Keating
  7. Unintended by Muse
  8. More Than Words by Westlife
  9. Sorry Seems To Be The Hardest Word by Blue ft. Elton John
  10. Rise and Fall by Craig David ft.Sting

    Sebenernya masih banyak lagi. Cuma untuk saat ini, lagu-lagu di atas yang bisa diingat oleh otak. Hehe... Lagu-lagunya masih asik didengerin meski udah jaduuuullll pisan. ^_^ Almost alias kebanyakan dari lagu-lagu di atas ane suka karena:
    • Liriknya yang bikin semangat.
    • Suaranya yang sesuatu banget!... sukaaaa.... Terutama suaranya Daniel Bedingfield, Craig David, dan Ronan Keating. Mantap!
    • Akustiknya bikin maknyus. Apalagi Unintended... Suka dari jaman SMA... Hoho...
    Pastinya pula lagu-lagu di atas udah gak asing lagi di telinga temen-temen semua. Bagi yang penasaran, sok mangga cari aja di 4Shared. ^^ Ini favoritku! Mana favoritmu?

    Minggu, 30 Oktober 2011

    Benci Jadi Cinta, Cinta Jadi Benci

    Ini semua tentang kelemahan. Benci jadi cinta dan cinta jadi benci. Dua poin yang saya yakin pembaca pernah merasakan sekaligus mengalaminya. Jangan persempit pikiran kita ttg cinta yang hanya untuk kekasih. Sekarang, biarkan saya melebarkan maknanya untuk sesuatu yang lebih luas.

    Poin pertama, benci jadi cinta. Bersyukur, saya mengalaminya untuk sesuatu yang saya makan. Apa itu? Yup, buah-buahan. Dalam hidup saya, kejadian benci jadi cinta terjadi pada kesukaan saya terhadap buah-buahan.
    1. Melon. Dulu saya gak suka dengan melon. Rasa manisnya aneh, bikin mual. Tapi entah ada angin apa dan saya lupa kapan kejadian pastinya, saya akhirnya coba juga makan melon. And,,, Wow! I like it. Yang dulunya saya parno bahkan sekedar mencium bau melon, sekarang malah suka banget sama melon. hehe,,, Benci jadi cinta.
    2. Alpukat. Buah ini dulunya juga saya amat tidak suka. Entah karena waktu saya makan, alpukatnya memang sedang tidak enak atau apa. Pokoknya saya tidak suka, pun kembaran saya juga tidak suka buah berwarna hijau ini. Tapi suatu hari, saya memaksakan diri mencoba buah alpukat. Dan ternyata... Enakkkk!!! Apa mungkin saya sedang beruntung alpukat yang saya makan enak. Tahu sendiri kan, gak semua alpukat rasanya enak. Ada saja yang rasanya pahit dan lembek. Hehe... Sejak dari itu, saya suka banget dengan alpukat. Pokoknya I love avocado!

    Nah, sayangnya untuk poin cinta jadi benci, saya alami terhadap salah satu sahabat dekat saya. How poor I am. Saya hanya tidak bisa mengelak pada hati yang tidak lagi bisa diajak kompromi. Apa mungkin ini ada kaitannya dengan sifat saya yang melankolis, yang cenderung akan mencintai sesuatu/seseorang dengan sangat amat. Pun sebaliknya, saat saya membenci sesuatu/seseorang saya akan benci sebenci-bencinya. Saya katakan, bisa jadi tulisan saya ini sebagai sebuah pembelaan thd sifat jelek saya yang satu ini. Toh dalam Islam juga diajarkan untuk tidak membenci/mencintai secara berlebihan. Sekali lagi, ini kelemahan saya untuk tidak bisa membuat hati saya berkompromi thd situasi yang ada. Situasi yang menyebabkan saya harus memutuskan silaturrahim, mungkin. Sebenarnya bukan memutuskan silaturrahim, hanya tidak ingin bertemu. Itu saja. Salah kah?

    Melihat sesuatu yang dulu kita cinta lantas akhirnya kita benci entah mengapa selalu membuat hati sesak. Kesimpulannya, saya masih belum bisa berdamai dengan keadaan. Dan ini adalah kelemahan saya sekaligus pembelaan saya.

    Tulisan ini sungguh geje. Biarkan lah. Toh yang menulis hatinya pun sedang galau segalau-galaunya.

    Edisi stress tingkat tinggi! T_T

    Sabtu, 29 Oktober 2011

    Saat Writing Block Menyapa

    Gak cuma sekali dua kali aku menghadapi ini. Berkali-kali. Writing block jadi penyakit yang sering muncul akhir-akhir ini. Kalau sudah parah, aku hanya bisa bengong depan laptop seharian. Nothing to do. :(

    Beruntung, ada photoshop yang siap menemaniku saat Microsoft Word tak lagi bersahabat. Hmm... Sebenarnya otak kananku lah yang sedang tak bersahabat. Alhasil, photoshop jadi program ampuh saat writing block menyapa. Bikin macam-macam header atau sekedar edit-edit foto menjadi pelarian yang menyenangkan.

    Nyok ah.... Lanjot! Photoshop! I love U full! *efek writing block menyebabkan tulisan ini pun jadi aneh bin ancur! Aaargghhh!!!!*




    Jumat, 28 Oktober 2011

    Bersama WR, Impianku Semakin Nyata


    Semuanya berawal saat aku membuat cerbung fan fiction dari sebuah sinetron. Tak disangka, banyak tanggapan positif dari teman-temanku di Facebook. Aku sendiri tidak pernah menyangka bisa membuat cerbung dadakan 8 episode dengan waktu kurang dari 2 minggu. Padahal sebelumnya, aku tidak pernah membuat cerita sepanjang itu. Hehe…
    Semakin tertarik dengan dunia tulis-menulis fiksi, aku sadar butuh sebuah komunitas menulis yang bisa memberi ruang bagiku untuk belajar lebih banyak lagi. Aku pun bertanya kepada beberapa teman. Dan Wulan lah, teman kuliah yang pertama kali mengenalkanku dengan SMCO (Sekolah Menulis Cerpen Online) Writing Revolution.
    Tanpa pikir panjang, hari itu juga aku langsung mendaftar sebagai anggota SMCO Writing Revolution. Aku ikuti prosedur pendaftarannya satu per satu, termasuk meng-add akun Joni Lis Efendi, Si Empunya WR. Nama Efendi mengingatkanku dengan nama belakang Bapakku yang juga ‘Efendi’. Maka kupikir Pak Pung (sapaan akrab beliau) juga adalah seorang bapak-bapak. Ternyata dugaanku salah. Nyatanya beliau adalah pemuda dengan semangat yang luarbiasa. Seorang pemuda yang mampu membangun sebuah kerajaan besar bernama Writing Revolution adalah hal yang luarbiasa bagiku. Dari sini saja, aku sudah termotivasi untuk bisa sehebat beliau.
    Semangat dan motivasi itu pun semakin menjadi-jadi saat aku mengenal teman-teman angkatan 05 di SMCO Writing Revolution atau biasa kami sebut Warga Kampung WR 05. Di Kampung WR 05 ini, aku mengenal banyak teman yang juga masih pemula sehingga aku tidak perlu merasa canggung. Bersama para BUNGA (Bung dan Nona, sapaan bagi warga Kampung WR 05), kami saling belajar bersama dalam hal tulis-menulis. Baik itu cerpen, puisi, ataupun pantun. Semua kami pelajari.
    Bersama WR pula, keinginanku untuk bisa menerbitkan buku akhirnya tercapai. Padahal, aku tidak pernah bermimpi bisa menerbitkan buku, meski hanya sebuah antologi. Tapi kini, semua seakan nyata adanya, sedikit demi sedikit. Aku tak lagi takut bermimpi untuk hal-hal yang lebih besar. Bisa menerbitkan buku sendiri adalah targetku selanjutnya. Dan bersama WR, aku yakin bisa mencapainya.
    Tak terasa sudah setengah tahun kebersamaanku dengan Writing Revolution. Di ulang tahun Writing Revolution yang ke-1 ini, aku berdoa semoga WR semakin sukses dan berkembang di masa depan.
    Bersama Writig Revolution, impianku pun semakin nyata. Terimakasih Writing Revolution.


    Rabu, 26 Oktober 2011

    Novel v.s Film

    Fenomena novel yang difilmkan sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Ada yang sukses, ada pula yang gagal. Sebut saja film "Emak Ingin Naik Haji" yang diambil dari karya Asmanadia dengan judul yang sama. Menurut ane, film ini termasuk sukses baik dari segi anemo masyarakat mau pun dari segi pesan yang ingin disampaikan. Buku dan filmnya KLOP. Tidak ada yang ditambahkan mau pun dikurangi. Jadi, bagi masyarakat yang sudah membaca bukunya tidak kecewa dengan filmnya.



    Lain lagi dengan film yang tak kalah fenomenal: "Ayat-ayat Cinta". Siapa sih yang nggak tahu AAC? Yup, karya dari novelis keren Kang Abik ini sudah fenomenal dari novelnya. Lalu banyak dari pembaca novel AAC yang menginginkan novel ini untuk difilmkan (termasuk ane, hehe...). Namun sayang seribu sayang, harapan ane (sebagai salah satu fans berat AAC) untuk melihat film yang sesuai dengan novelnya kandas. Filmnya jauh dari harapan. Banyak tokoh dalam film yang karakternya berbeda dan yang paling ane tidak suka adalah penambahan cerita di akhir dalam rumah tangga Aisyah, Fahri, dan Maryam yang sangat mengganggu. Ini hanya pendapat pribadi. Pesan yang disampaikan dalam film sangat jauh berbeda dengan pesan yang ada di novel AAC. Bagi reader yang sudah menonton filmya tapi belum baca novelnya, ane sarankan untuk membaca novelnya. Novelnya lebih bagus dari filmnya.

    Dan masih banyak lagi karya dari penulis-penulis Indonesia yang akhirnya difilmkan.

    Menurut ane, sukses atau tidaknya sebuah film yang diadaptasi dari novel, tidak hanya berdasarkan dari jumlah penonton, didukung aktor dan aktris yang terkenal, atau disutradarai oleh sutradara kelas atas. Lebih dari itu, ada satu hal yang sangat menentukan berhasil atau tidaknya sebuah film adaptasi novel. Apa? yup, P-E-S-A-N alias amanat. Inilah yang kadang terlupakan. Seperti kasus AAC di atas, ane tidak mendapatkan pesan yang sama pada filmnya dengan pesan yang ane dapat ketika membaca novelnya. Ini yang membuat ane sedikit kecewa. Hehe...

    Maka, ketika sebuah novel akan difilmkan, yang ane khawatirkan adalah akankah pesan yang ane dapat saat membaca novelnya akan sama dengan pesan yang ane dapat ketika menontonnya? Bukan apa-apa, akan sangat sayang ketika novelnya sudah bagus, tapi filmnya jelek. Terlebih banyak masyarakat Indonesia yang lebih suka menonton daripada membaca. Ya, kan?

    Nah... Bagaimanakah dengan novel "Hafalan Shalat Delisa" yang akhir tahun ini akan muncul di bioskop? Semoga akan sebagus "Emak Ingin Naik Haji" dan sekeren "Ketika Cinta Bertasbih". S E M O G A. Aamiin.


    Menurutmu? Kita berbicara film Indonesia ya. Bukan film luar negeri sekelas Harry Potter. Hehe...

    Selasa, 25 Oktober 2011

    Race In Peace: Super Sic







    Meski bukan penggemar dari Simoncelli, tapi ane ingin ngucapin. Selamat jalan Super Sic! Hmm... kurang seru juga balapan tanpa Super Sic...

    Kamis, 20 Oktober 2011

    Bunga Sedotan

    Postingan untuk kakakku, Dela Aristi. ^_^


    Berikut ini caranya:

    1. Gunting satu buah sedotan menjadi 3 bagian sama panjang. Untuk bagian pertama, gunting tengahnya namun jangan sampai habis, cukup setengahnya.
    2. Hasilnya akan seperti ini.
    3. Dengan menggunakan gunting atau pensil atau pulpen, buatlah lekukan menyerupai kelopak bunga seperti pada gambar 3. Lakukan hal yg sama pada bagian sedotan yg ke dua.
    4. Untuk bagian terakhir sedotan, buat seperti ada putik bunga yg ane yakin ente pasti ngerti. (Lihat gambar)
    5. Terakhir, satukan semua bagian2 yang sudah dibuat tadi hingga menghasilkan seperti pada gambar 5. Finish... Selamat mecoba!

    NB: Baiknya, sedotannya warnanya beda-beda. Hoho,,

    Itu Bukan Hutang, Anakku

    Saat libur lebaran kemarin, ada satu obrolan yang akan selalu aku ingat tentang Mama. Obrolan yang sederhana sebenarnya, tapi sempurna membuatku terharu dan semakin cinta akan sosok Mama.
    “Neng, Mama punya hutang gak sama kamu?” tanya Mama tiba-tiba saat kami hanya duduk berdua di meja makan.
    “Eh? Hutang? Gak ada kok. Emang kenapa gitu, Ma? Kok tiba-tiba nanyain hutang?” jawabku, balik bertanya.
    “Gak apa-apa kok. Takutnya Mama ada hutang sama kamu. Kalau ada hutang, bilang aja ya. Nanti Mama ganti.”
    “Mama apa-apaan sih. Justru aku yang banyak hutang sama Mama. Dari lahir sampai segede ini, aku banyak banget hutangnya sama Mama. Hehe…” Jelasku mencoba meyakinkan Mama bahwa sekalipun Mama punya hutang padaku, aku tidak akan pernah menagihnya.
    “Ihh… Itu mah bukan hutang, Neng. Itu mah udah kewajiban Mama.” Balas Mama dengan senyum manisnya.
    ***
                    Kawan, kalau kalian ingin belajar tentang keikhlasan, belajarlah dari Mamamu. Kalau kalian ingin belajar tentang cara berbagi, belajarlah dari Bundamu. Kalau kalian ingin belajar bagaimana tersenyum manis, belajarlah dari Mamamu, Bundamu, Emakmu, Ibumu… Dan dapati keajaibannya.
                    Aku mencintaimu, Mama. Karena Allah.
                    Ana uhibbuki ya Ummi…

    ----------------------------------------------------
    Bingkisan Dari Kami
    Tulisan ini diikutsertakan dalam acara "Bingkisan dari Kami" oleh blongnya Ibu Nia. ^_^

    Mendadak Survey

    Dari sekian banyak jenis tulisan yang ada di blog ini, ternyata postingan tentang "Desain Grafis (Desain Sertifikat dan Piagam)" menempati urutan pertama dalam pencarian para netter (pengguna internet). Nah, urutan ke dua ditempati oleh postingan tentang "MotoGP (Dani Pedrosa, The Pedrobot)". Sisanya ditempati oleh "[Review Film] Lima Elang", "[Review Buku] Ayahku (bukan) Pembohong", dan terakhir "(Cerpen) Biarkan Dewi Mati".


    Sebenernya survey ini tidak berarti apa-apa. Terutama untuk bagian pertama tentang Desain Grafis. Ane yakin, lebih banyak yang mencarinya lewat Gambar Google ketimbang mengunjungi blog ane secara langsung. Hehe... Tapi gak masalah, bagi ane asal bermanfaat, ane fine-fine aja. Hoho... ^_^

    Well, survey statistik ini memberi ane sebuah kesimpulan bahwa, sepertinya ane akan lebih banyak memposting tentang Desain Grafis sesuai minat para netter. Hehe,,, dan juga pastinya akan terus memposting tentang motoGP. Selebihnya tentu saja review-review buku yang pernah ane baca sekaligus lanjutan dari cerbung yang kadang terbengkalai. Haha...

    Pokoke, keep blogging por-eper! ^_^

    Selasa, 18 Oktober 2011

    Desain Header Kucing

    Yang namanya ngeblog, emang gak ada bosennya otak-atik header. Nah, berikut ini beberapa header yang bertemakan kucing. Gambar dasar kucing ane cari di gugel. Sisanya, ane kreasikan sendiri. Langsung aja deh! ^_^






    Gimana? Mana yang paling disuka? Hmm... atau malah jelek semua ya? hehe...

    H A P P Y   D E S I G N I N G  ! ! !

    Senin, 17 Oktober 2011

    Serba-serbi Kemenangan Stoner di Philip Island, Australia

           Alih-alih ingin posting sesuatu yang spesial di anniversary postingan ke-100 ini, ane malah ingin posting tentang kemenangan Stoner di Sirkuit Philip Island, Australia, kemarin (16/10). Haha... gapapa lah, itung-itung anniversary-nya sekalian anniversary Casey Stoner sebagai MotoGP World Championship 2011. ^_^
    --------------------------------------------------------------------


    Minggu, 16 Oktober 2011, mungkin menjadi salah satu hari terbaik dalam hidup seorang Casey Stoner. Titel Juara Dunia MotoGP didapatnya di kandang sendiri, Australia. Luarbiasa. Kemenangan yang sangat spesial pastinya. Selain itu, ternyata masih ada beberapa hal unik (spesial) yang ane temukan pada kemenangannya kali ini. Apa aja? Langsung aja deh, bray! Cekidot!
    1. Stoner berhasil meraih podium pertama, 5 kali berturut-turut di sirkuit Philip Island. Ya, Stoner adalah King of Philip Island, kandangnya sendiri.
    2. Stoner berhasil meraih titel Juara Dunia MotoGP 2011 tepat di hari ulang tahunnya, 16 Oktober. Hadiah ulang tahun yang tidak akan pernah terlupakan bagi Stoner tentunya. Dan percaya atau tidak, balapan yang digelar kemarin juga merupakan balapan seri ke-16, sesuai tanggal lahirnya.
    3. Ini juga sesuatu yang unik menurut ane. Nomor motor Casey Stoner adalah 27, sesuai dengan jumlah lap (putaran) yang berhasil diselesaikannya pada race kemarin, 27 laps. Sebagai tambahan, Stoner pertama kali sebagai Juara Dunia MotoGP di tahun 2007. Hehe...
    4. Meski masih menyisakan 2 race lagi, Stoner sudah memastikan gelarnya sebagi Juara Dunia MotoGP 2011 untuk yang ke-2 kalinya.
    5. Yang mengawali, juga yang mengakhiri. Tahun 2007, untuk pertama kalinya MotoGP menggunakan mesin 800cc, dan untuk pertama kali pula Stoner menjadi Juara Dunia. Tahun 2011 adalah akhir dari penggunaan mesin 800cc dan Stoner pun berhasil meraih gelar Juara Dunia. Luarbiasa.
    Lima hal di atas yang menurut ane cukup menarik. Sayangnya, kemarin Stoner merayakan ultahnya yang ke-26. Hmm... Kalau aja umurnya 27 sesuai nomor motornya. Qiqiqi... *maksa.

    Oia, satu scene yang ane ingat saat kemenangannya kemarina adalah saat Casey mencium perut istrinya yang lagi hamil. Hwaa... Sweet banget deh... Dan jujur, setelah melihatnya, respect ane terhadap seorang Stoner bertambah. Itu juga yang membuat ane ingin bikin profilnya di lain waktu. Semoga gak lupa ya. hehe...

    Sekali lagi, selamat buat Casey Stoner yang sudah memastikan gelar Juara Dunia MotoGP 2011, kemarin (16/10). Congratulation, Sir!


    Minggu, 09 Oktober 2011

    All about Our Friendship

    Sahabat...

    Ibarat mata dan tangan
    Apabila tangan terluka,
    maka mata akan menangis.
    Dan apabila mata menangis,
    maka tangan yang akan menghapusnya.

    Zen & Wawat, 10 Agustus 2007

    --------------------------------------------------------
    Penggalan kata mutiara di atas adalah hadiah dari sahabatku, Zen dan Wawat. Ingat sekali, Kata Mutiara beserta foto saat perpisahan SMA diberikan sebelum aku merantau ke Bandung sepuluh hari kemudian, 21 Agustus 2007. Hmm... Banyak kenangan, banyak kisah. Semoga aku pun bisa menjadi mata dan tangan bagi kalian. Aamiin. Mencintai Zen dan Wawat, karena Allah. ^_^


    Sabtu, 08 Oktober 2011

    Hujan Bumi

    Kekalahan ini telak. 
    Sempurna membuat semangatku retak. 
    Miris, aku selalu sendiri. 
    Berteman sepi yang menghujam ulu hati.
     
    Tapi Allah tetaplah berbaik hati, 
    di luar sana hujan syahdu menari-nari.

     
    Hujan... tetaplah turun ke bumi, 
    temani aku untuk bangkit dan bermimpi lagi...

     
    -Hujan Bumi, 10.21-

    Jumat, 07 Oktober 2011

    Membuat Header Blogspot

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

            Semangat pagi, kawan! Kali ini kita akan membahas tentang cara membuat header blogspot. Header atau bagian kepala dari blog menjadi bagian penting untuk menarik para reader berkunjung ke blog kita. Ya, nggak? Walau tentu aja isi blog kita juga harus bagus. Jangan sampai headernya bagus, tapi isinya gak bermanfaat. Sama aja bohong. Hehe,,,

    Yo wes, daripada cuap2 gak jelas. Langsung aja, cekidot!
    ------------------------------------------------------------------
    Kita akan membuat header dengan hasil jadi seperti di bawah ini:


    1. Langkah pertama kita harus tahu dulu lebar header blog kita berapa. Cara mengeceknya, masuk (sign in) dulu ke akun blogspot masing-masing. Setelah masuk, lalu pilih 'design' di pojok kanan atas.


    2. Pilih "Template Designer"


    3. Lalu pilih "Adjust Widths" dan lihat angka di Entire Blog. Lebarnya bisa disesuaikan dengan keinginan kita. Untuk blog ini, saya menggunakan lebar 930 pixel. Selanjutnya silakan "back to blogger".


    Kamis, 06 Oktober 2011

    Header Terbaru

    Ternyata, asyik juga berkreasi dengan header. ^_^

    Akhwat Mania, edisi insyaf. Hehe...
    Gak ada judul, tapi suka aja. Keren, gak? hehe...
    Sama kyk yang di atasm cuma ada unsur merahnya

    Ini yang terbaru. Adem ya lihatnya. ^_^ (Green World) 








    Rabu, 05 Oktober 2011

    Meski (sedikit) Terlambat

    Assalamu'alaikum. Selamat malam reader! (Qiqiqi... berasa punya reader setia, padahal gak ada. Haha...)

    Sedikit terlambat, itulah yang Rain rasakan saat memasuki dunia kepenulisan. Jika ditelusuri, Rain mulai suka menulis di tahun 2008 atau saat Rain berumur 19 tahun. Sebenernya alasan Rain menulis, dulu karena banyak masalah. Hehe,,, ternyata menulis bisa melegakan hati yang sedang bermasalah. Keinginan nulis ini tentu gak ujug-ujug datang. Bukan juga semata-mata terbelit banyak masalah kala itu. Rain sadar, keinginan menulis datang karena Rain hobi baca. Banget!

    Lagi dan lagi, hobi membaca ini pun dirasa sedikit terlambat. Di saat orang lain hobi baca sejak SD, Rain baru hobi baca sejak SMA. Waktu kecil, di saat anak lain diberi buku bacaan, entah majalah anak-anak, atau apalah yang bisa dibaca, kita (Rain dan anak-anak di rumah) justru diberi buku gambar. Masih ingat sekali, Bapak yang memang Guru Pkn selalu membawa buku gambar bekas tugas klipping anak-anak di sekolah. Nah, tugas klipping itu secara 'mengenaskan' selalu kita sobek klippingannya dan kertas gambarnya kita pakai untuk menggambar apa pun. Tidak dipungkiri, dari sinilah bakat seni Rain mulai tumbuh. Hehe...

    Sejujurnya, Rain sama sekali gak terpikir untuk jadi penulis. Kalau ditanya tentang cita-cita, saat SD Rain justru ingin jadi Insinyur Pertanian. SMP berubah ingin jadi Seniman. SMA berekpetasi ingin jadi Arsitek...  Hoho... Baru deh pas kuliah ingin jadi Penulis.

    Well, meski (sedikit) terlambat, Rain gak menyesal sama sekali dengan apa yang pernah Rain sukai dan jalani. Bagi Rain, sesuai dengan poster yang tertempel di dinding kosan Rain, HIDUP adalah RUANG SENI. Mau seni mendesain, seni gambar, seni kata, dan apa pun namanya. Seni sudah jadi bagian dari hidup Rain. Pun menulis, dunia yang baru aja Rain jalani dengan serius saat ini.

    Ya, meski terlambat... Rain bersyukur atas semuanya. Terima kasih ya Allah. ^_^

    Pondok Muslimah, 05 Oktober 2011
    08:42 PPM

    [My Book] Secret of Writing

    Dahsyatnya Menulis yang Menginspirasi Dunia


    Alhamdulillah buku antologi ke-2 saya sudah terbit. Antologi bersama dengan teman-teman di Writing Revolution. 
     -------------------------------------------------------------------------

    Judul : Secret of Writing Dahsyatnya Menulis yang Menginspirasi Dunia
    Penulis : Joni Lis Efendi
    Tebal : vi + 180 hlmn
    Harga : Rp. 40.500,-
    ISBN : 978-602-225-116-3

    Sinopsis:

    Siapapun bisa menulis selagi ia memiliki kemauan dan tekad yang kuat. Siapapun mampu menghasilkan karya yang luar biasa yang mampu merubah hidupnya dan juga mencerahkan orang lain. Siapapun sanggup membuktikan dirinya sebagai penulis yang hebat dengan reputasi tinggi. Siapapun berhak untuk memilih apakah ia akan mulai menulis detik ini atau 10 tahun lagi.

    Siapapun memiliki kesempatan yang sama besarnya untuk menjadi bagian dari penulis yang mengukir sejarah dunia. Dalam buku ini, berisikan kisah-kisah dari penulis yang memiliki impian untuk merubah hidupnya dan dunia dengan menulis. Selain itu, juga ada tips rahasia menulis yang siapa saja bisa melakukannya. Jika kesungguhan hati itu telah kukuh, jika niat itu telah berbuah semangat menggebuh, jika tekad itu telah menggunung dan bergemuruh untuk diledakkan, maka saat inilah waktu yang tepat untuk mewujudkan impianmu. Kamu, saya, dan kita semua memiliki hak dan kesempatan yang sama menjadi penulis.

    Ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website www.leutikaprio.com, inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0821 38 388 988. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia.

    H A P P Y   R E A D I N G   ! ! !   ^ _ ^

    Selasa, 04 Oktober 2011

    Izinkan Aku ya Allah

           Banyak janji yang kubuat padaMu, sebanyak itu pula aku mengingkarinya. Rasanya diri ini sudah tak layak mendapatkan pertolongan dariMu. Sungguh tak layak... Malu rasanya.

            Saat masalah menimpa, lagi dan lagi, untuk kesekian kalinya. Aku tak sanggup untuk tidak berkata, "Ya Rabb,,, tolonglah aku. Bantu aku..." Dan dengan kemurahan-Mu, KAU tolong aku. Lagi dan lagi. Padahal kusadar, setelah kemudahan kudapatkan, seringku lupa, seringku ingkar, untuk menunaikan hak-MU.

           Allah... Jikalau ujian-Mu bisa membuatku selalu ingat pada-Mu, biar... biar aku menghadapinya. Biarku selalu mengucap nama-Mu. Biarku hanya bergantung pada-Mu, pada pertolongan-Mu. Izinkan aku ya Allah... izinkan aku mengucap syukur baik saat suka maupun duka. Izinkan aku selalu berkomunikasi dengan-Mu. Jangan biarkan aku lalai untuk menyebut nama-Mu meski sedetik. Jangan biarkan ya Allah...

    Maafkan aku yang telah teramat sering lalai menyebut nama-Mu, alpa untuk mengingat-Mu.

          Terimakasih untuk hidup lurus yang kau hadiahkan padaku. Hidup dikelilingi orang-orang sholeh dan sholehah. Izinkan aku untuk tetap bisa menyampaikan risalah Islam. Izinkan aku ya Allah...

    Rabu, 28 September 2011

    Leonardo With No 'O' (7)

    Setelah hampir 2 bulan absen menulis cerita Leon, dengan bahagia saya melanjutkan cerita ini. Untuk episode sebelumnya, silakan baca di sini. Maafkan kalau tulisannya rada-rada kaku, maklum. Saya harus menyesuaikan kembali feel untuk cerita Leon. Tapi semoga tetap bisa dinikmati. Happy Reading. :D

    Ajusi Soon

    Sebulan setelah peringatan kematian Lee Kyung, Leon dan Lasmi menjadi semakin dekat, meski masih sekedar teman biasa. Mereka masih jauh untuk memikirkan hal-hal yang lebih serius.

    ***

    ASHOKA Restaurant, Itaewon - Seoul.

    Kali ini Lasmi mengajak Leon untuk mencicipi masakan India di Ashoka Restaurant, restaurant India pertama di Korea Selatan.

    “Kau kelihatannya sangat dekat dengan Ajusi Soon, Leon.” Ucap Lasmi sambil menikmati roti Cane khas India, sedari tadi yang dibicarakan Leon hanya tentang Ajusi Soon.
    “Begitulah. Ajusi sudah aku anggap seperti orangtuaku sendiri,“ balas Leon dengan senyum manisnya. “Kau tau bukan, kedua orangtuaku bekerja setiap hari, dari pagi sampai malam. Hampir jarang aku bertemu mereka kecuali akhir pekan. Dan yang aku temui setiap hari adalah Ajusi Soon.”
    “Ohh… begitu rupanya. Kapan-kapan bisakah kau mengenalkannya padaku?”
    “Tentu saja, bahkan harus. Ajusi orang yang sangat menyenangkan, teman mengobrol yang hangat. Kau pasti suka.” Jawab Leon bersemangat.
    “Benarkah? Hmm… Mendengar kau berkata seperti itu, membuatku semakin penasaran. Hehe,,, Oia, bagaimana masakannnya? Kau suka?” Tanya Lasmi mengalihkan topik.
    “Ya, ini enak. Sepertinya, kapan-kapan aku akan mengajak Mummy dan Duddy makan di restaurant ini. Gomawo.” Jawab Leon, menghabiskan suapan terakhir rotinya.
    “You’re welcome!” balas Lasmi, tersenyum senang.

    Karena hari sudah menjelang malam, selesai makan, Leon berniat mengantar Lasmi pulang ke apartement.

    “Tidak perlu, Leon. Aku masih harus ke apartement Mr. Salman, ada tugas kuliah yang masih belum aku pahami. Jadi aku berniat ke rumah pamanku untuk menanyakannya langsung. Kebetulan, apartemennya tidak jauh dari sini.” Jelas Lasmi panjang lebar.
    “Tugas? Tugas yang mana?” Leon terlihat bingung.
    “Aishh… bagaimana kau bisa lupa? Tugas dari Prof.Yong Joon untuk hari Selasa depan, tanggal 16. Ingat?”
    “Tanggal 16?” Gumam Leon.
    “Leon, kenapa kau diam? Kau sudah ingat tugasnya?” Tanya Lasmi melihat Leon yang tiba-tiba terdiam.
    “Hmm… Enam belas, tanggal enam belas? Aigooo!!! Bagaimana aku bisa lupa!”
    “Baguslah, sepertinya kau sudah ingat tugasnya.” Ucap Lasmi yang menganggap reaksi Leon berlebihan.
    “Bukan, bukan itu. Aishh,,, hampir saja aku lupa.”
    “Eh, maksudnya?” Lasmi semakin bingung.
    “Ajusi Soon.” Ucap Leon, singkat.

    ***

    Ajusi Soon sudah lama menjadi seorang duda. Lima belas tahun lalu, istrinya meninggal dunia karena suatu penyakit. Karena kemiskinan, Ajusi tidak mampu mengobati penyakit istrinya. Hal ini lah yang membuat Ajusi merasa sedih sekaligus merasa bersalah terhadap istinya. Bagi Ajusi Soon, istrinya adalah segalanya.

    Sejak ditinggal sang belahan jiwa, bersama anak laki-laki satu-satunya yang saat itu berusia 10 tahun, Ajusi Soon berusaha bertahan di tengah kesedihan yang menderanya. Namun, Ajusi Soon hanyalah manusia biasa. Pertahanannya runtuh. Hidupnya menjadi berantakan. Mabuk-mabukkan menjadi kebiasaannya setiap hari. Tidak hanya itu, Ajusi bahkan menjadi pecandu narkoba.

    Sabu-sabu menjadi makanannya sehari-hari.

    Karena sudah hilang akal, tak jarang Ajusi tanpa sadar memukuli anak laki-lakinya. Mencoba menumpahkan segala kesedihan melalui sang anak yang sejatinya tidak bersalah sama sekali.

    Para tetangga Ajusi yang setiap hari melihat Ajusi memukuli anaknya, memutuskan untuk mengambil tindakan. Demi melindungi anak Ajusi, para tetangga memisahkan keduanya.

    Mereka memutuskan untuk membawa anak Ajusi ke Panti Asuhan untuk sementara waktu. Mereka juga membawa Ajusi ke pusat rehabilitasi narkoba guna menyembuhkan kecanduannya.  Di pusat rehabilitasi itu lah, Ajusi bertemu dengan Mrs. Christina McLarren, Mummy-nya Leon.

    ***

    Satu tahun kemudian.
    Leon masih berumur 4 tahun, sedangkan Lee Kyung berumur 7 tahun, saat Mummy membawa Ajusi Soon yang sudah sembuh dari candu narkoba ke rumah mereka. Dengan persetujuan Mr. Han, sang istri membawa Ajusi Soon ke rumah mereka untuk dijadikan pembantu rumah tangga.

    Ya, selama satu tahun Mummy berusaha keras menyembuhkan Ajusi Soon. Kisah hidup Ajusi Soon yang begitu menyedihkan membuat Mummy merasa kasihan. Maka, tak lama setelah Ajusi sembuh, Mummy memintanya untuk bekerja di rumahnya. Mummy yakin, Ajusi Soon sejatinya adalah orang yang baik hati.

    Awalnya, Ajusi Soon menolak tawaran dari Mrs. Han. Ajusi tentu merasa tidak enak hati. Karena ia merasa selama ini sudah sangat merepotkan Mrs. Han. Lagi pula, ia juga harus merawat anak laki-laki satu-satunya yang sudah lama ia tinggalkan di Panti Asuhan. Namun takdir berkehendak lain. Ketika Ajusi akan menjemput anaknya ke Panti Asuhan, sang anak menolak ikut. Ajusi Soon menyadari mungkin anaknya masih trauma, takut kalau-kalau ayahnya akan memukulinya lagi seperti dulu. Dibujuk berulangkali pun, sang anak tetap menolak ikut. Akhirnya, Ajusi Soon pun merelakan sang anak untuk tetap tinggal di Panti Asuhan.

    Maka, jadilah Ajusi Soon menerima tawaran Mrs. Han untuk bekerja di rumahnya.

    ***

    Tanpa terasa sudah 16 tahun Ajusi bekerja di rumah keluarga Han. Kehidupannya kini jauh lebih baik daripada sebelumnya. Sebagai rasa terimakasihnya kepada Keluarga Han, Ajusi memutuskan untuk  mengabdi pada Keluarga Han di sisa hidupnya.

    “Leon… Kau memang anak yang baik. Meski kadang nakal luarbiasa. Sarangheyo.” Ucap Ajusi Soon sambil tersenyum memandang foto Leon yang sedang digenggamnya. Ajusi sedang berada di taman kota Seoul, tempat bermain favorit Leon saat kecil dulu. Leon sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Melihat foto Leon, membuat Ajusi Soon kembali teringat akan anak laki-lakinya, Hwan Soon.

    ***

    Selama di Panti Asuhan, Hwan Soon tumbuh menjadi anak yang cerdas dan mandiri. Namun, trauma masa kecilnya menjadikannya seseorang yang tertutup. Dingin. Merasa sudah cukup mandiri, pada saat umur 17 tahun Hwan Soon memutuskan untuk pergi dari Panti Asuhan dan memulai kehidupan barunya. Ia bertekad untuk sukses dengan tangannya sendiri.

    Sampai suatu hari, Hwan Soon akhirnya menemui sang ayah di rumah Keluarga Han. Hanya untuk mengabarkan bahwa ia kini sudah hidup dengan baik.

    “Anyong.” Ucap Hwan kaku. Di hadapannya sang ayah tersenyum bahagia.
    “Anakku… maafkan appa-mu ini nak… ” tiba-tiba Ajusi Soon berlutut, menangis tersedu-sedu. Rasa bersalah membuatnya hanya bisa berkata: “maaf…”
    “Sudahlah, appa. Bangunlah. Hwan sudah memaafkan appa sejak dulu.” Ucap Hwan sambil mengangkat tangan ayahnya, menyuruhnya berdiri, lalu perlahan memeluk sang ayah.

    Pertemuan ayah-anak itu begitu mengharu-biru. Selama beberapa saat mereka hanya berpelukan, tanpa kata. Mencoba menumpahkan segala bentuk kerinduan yang selama ini terpendam.

    “Appa… Hwan sekarang sudah hidup mandiri. Jadi jangan cemaskan Hwan lagi. Appa hiduplah dengan baik di rumah Keluarga Han. Kudengar mereka orang baik. Hwan berjanji, sebulan sekali Hwan akan berkunjung ke sini untuk bertemu dengan Appa.” Ucap Hwan sambil melepaskan pelukannya.
    “Mengapa kau tidak tinggal di sini saja, nak. Jika kau mau, Appa bisa meminta kepada Mr. Han untuk menerimamu bekerja di sini. Beliau pasti mengijinkan.”
    “Tidak perlu Appa. Hwan tidak ingin merepotkan Keluarga Han. Hwan sudah sangat bersyukur Keluarga Han sudah merawat Appa dengan baik. Hwan ingin hidup mandiri.”
    “Apa kau yakin, nak?”
    “Aku sangat yakin Appa. Percayalah.”

    ***

    Kembali ke masa kini, Ajusi Soon masih memandangi foto anaknya yang kini sudah tinggal di luar Korea. Dulu, sesuai janji, Hwan memang sebulan sekali mengunjunginya di rumah keluarga Han. Kunjungan rutin yang mengenalkannya pada Lee Kyung, kakak perempuan Leon. Cinta pertama Hwan.

    Saengil chukha hamnida… Saengil chukha hamnida…” Leon membuyarkan lamunan Ajusi Soon dengan lagu ulang tahunnya. Ya, tanggal 16 adalah ulang tahun Ajusi Soon. Di belakangnya sudah ada Mummy yang memegang kue tart dan Duddy membawa sebuah kamera, siap memotret momen penting tersebut.

    Sejenak Ajusi merasa kaget, hanya bisa diam mematung.
    “Ayo Ajusi, tiup lilinnya! Tunggu apa lagi.” Pinta Mummy.
    “Yeaaahhh…” Leon berteriak gembira setelah Ajusi Soon meniup lilin. Satu persatu mereka memeluk Ajusi dan mengucapkan selamat ulang tahun.
    Saengil chukha hamnida, Ajusi. Terima kasih banyak karena telah banyak membantu keluarga kami selama ini.” Ucap Mr. Han, menggenggam tangan Ajusi.
    “Tidak, Tuan. Seharusnya saya yang berterima kasih kepada Tuan dan Nyonya. Juga kepada Leon. Terimakasih, terima kasih sudah mau menerima lelaki tua bodoh ini. Kamsahamnida.” Balas Ajusi Soon sambil berulangkali membungkuk, memberi hormat.
    “Sudahlah Ajusi. Ayo, ayo kita potong kuenya.” Ucap Leon tidak sabar.
    “Baiklah, tuan muda. Oia, tapi bagaimana tuan muda tahu saya ada di taman ini?” Tanya Ajusi Soon.
    “Selain di rumah, dimana lagi Leon bisa menemukan Ajusi? Hah? Bukankah taman ini yang sering Ajusi kunjungi saat ulang tahun. Semua orang di rumah juga sudah tahu.”
    “Benarkah? Haha… ternyata tuan muda jauh lebih mengenal saya daripada saya mengenal tuan muda.”
    “Sudah-sudah. Leon, mana pisaunya?” Tanya Mummy.
    “Aisshh,,, Leon lupa. Pisaunya tertinggal di mobil. Ya sudah, biar Leon ambil sebentar. Sabar ya Ajusi. Hehe…“ Leon bergegas menuju mobil di parkiran taman.

    Sampai di parkiran, tak disangka Leon bertemu dengan Mr. Salman. Lebih tepatnya Leon melihat Mr. Salman sedang bermain dengan anak-anak. Tanpa sadar, Leon malah asik memperhatikan kegiatan Mr. Salman. Kelihatannya Mr. Salman sedang mengajarkan sesuatu kepada anak-anak itu. Penasaran, Leon menghampiri Mr. Salman.

    “Anyong, Mr. Salman.” Sapa Leon.
    “Leon. Sedang apa di sini?” Tanya Mr. Salman yang sedikit kaget melihat Leon tiba-tiba ada di hadapannya.

    Bukannya menjawab, Leon malah balik bertanya, “Mr. Salman sendiri sedang apa di sini?” Dilihatnya papan yang dipegang Mr. Salman. Ada sebuah simbol, gambar, tulisan atau apa namanya, tertera di papan itu. Tulisan aneh yang sepertinya pernah dilihat Leon sebelumnya.

    Di sisi lain, Mummy yang merasa Leon terlalu lama, meminta Ajusi untuk menyusul Leon. Khawatir terjadi sesuatu. Maka, Ajusi Soon pun menyusul ke tempat parkir.

    Tidak menemukan orang yang dicarinya, Ajusi melihat sekeliling. Dan tersenyum saat menemukan keberadaan Leon. Tanpa pikir panjang, Ajusi segera menghampiri Leon.

    Namun langkahnya terhenti saat dilihatnya Leon sedang bersama seseorang. “Salman… ” gumamnya kaget.

    Leon yang menyadari ada seseorang di belakangnya, menengok. “Ajusi… Aigo. Maafkan Leon membuat kalian menunggu. Hampir saja lupa. Oia, sebelumnya perkenalkan. Ini Mr. Salman, dosen Leon di kampus. Dan Mr. Salman, ini Ajusi Soon.” Leon yang tidak menyadari situasi, malah sibuk memperkenalkan keduanya.

    Mr. Salman yang juga tak kalah kaget, hanya bisa terdiam lantas bergumam pelan, “Tuan Soon….”

    ~B E R S A M B U N G~