Jumat, 27 Mei 2011

Pekerja Rumah Tangga (PRT)



Kekerasan terhadap PRT menjadi polemik yang tidak berkesudahan. Kasus demi kasus seakan datang silih berganti, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Tentu ini tidak mutlak menjadi kesalahan satu pihak. Ada banyak pihak yang terlibat dan ikut bertanggungjawab dalam melindungi hak-hak PRT.

Pemerintah harus terus memperbaharui regulasi mengenai perlindungan terhadap PRT. Tanpa regulasi (peraturan) yang jelas, PRT akan sulit meminta perlindungan. Sampai saat ini, belum ada UU yang mengatur secara langsung tentang hak-hak dan kewajiban PRT. Mengapa? Karena di Indonesia PRT hanya dianggap sebagai pembantu (helper) bukan pekerja (worker).

Ada pun masyarakat pengguna jasa PRT, berkewajiban menghargai hak-hak PRT secara profesional. Ini penting agar tercipta hubungan yang harmonis antara pengguna jasa dan PRT itu sendiri. Peran serta masyarakat sebagai pengawas di lapangan melengkapi semua peran yang dibutuhkan untuk menlindungi PRT.

Semua tidak akan berjalan dengan baik tanpa kesadaran dari masing-masing pihak untuk terus peduli terhadap nasib PRT di Indonesia, yang seolah tidak pernah lepas dari penderitaan. Wallahu’alam.

Senin, 23 Mei 2011

Lihatlah Kebaikan Di Sekitar Kita


Topik sederhana tapi "ngena" dari saluran radio swasta di Bandung ini begitu menarik perhatian saya. Kebiasaan saya akhir-akhir ini memang mendengarkan radio sambil menunggu terlelap tidur. Karena biasanya topik-topik yang disajikan malam hari lebih santai tapi serius, jadi kadang bisa buat introspeksi diri sebelum tidur. 

Sabtu, 21 Mei 2011

Akhir Hidup (Kisah Nyata)

di post oleh : Fahmi Ikhwanudin

Ya Allah berikan kematian yang paling baik padaku dari sebaiknya-baiknya kematian (Kisah Nyata)
 

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”

Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.